Guluk-guluk, SUMENEP — LPS MTs 1 Putri Annuqayah
Suasana haru namun penuh semangat menyelimuti ruang kelas IX Dinamis MTs 1 Putri Annuqayah pada pukul 10.00 hingga 11.30 WIB, ketika prosesi pelepasan resmi santri kelas 9 ke Pondok Pesantren Annuqayah daerah masing-masing dilangsungkan dengan khidmat, Kamis pagi itu. Dalam acara yang sederhana namun sarat makna tersebut, Kepala MTs 1 Putri Annuqayah, Nyai Hj. Ulfatul Hasna', S.Ag., secara simbolik melepas para santri yang telah menyelesaikan masa belajarnya di madrasah selama tiga tahun.
Momentum ini bukan hanya penanda akhir dari fase pendidikan formal tingkat menengah pertama, melainkan juga awal dari tanggung jawab baru yang akan diemban para santri dan pondok pesantren daerah sebagai tempat lanjutan pembinaan spiritual, intelektual, dan akhlak santri.
Dengan wajah tenang namun penuh makna, Nyai Hj. Ulfatul Hasna' mengatakan di hadapan para wali kelas dan pengurus pesantren daerah yang hadir. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan pesan mendalam yang mencerminkan harapan dan kekhawatiran seorang guru, kepala, sekaligus ibu terhadap anak-anak didiknya.
“Mulai hari ini, sepenuhnya tanggung jawab pembinaan santri kelas 9 kami serahkan ke pondok daerah masing-masing. Kami percaya para pengasuh dan pengurus daerah akan meneruskan proses ini dengan penuh amanah,” ujar beliau.
Beliau menekankan bahwa pelepasan ini tidak berarti putusnya hubungan antara madrasah dengan para santri, tetapi merupakan bentuk koordinasi yang terencana agar santri tetap berada dalam jalur pembinaan yang konsisten dan berkesinambungan.
Dalam pesan khususnya, Nyai Ulfatul menegaskan pentingnya menjaga a’malul yaumiyah atau amalan harian para santri sebagai indikator kedisiplinan spiritual. Ia menyebutkan bahwa setelah dilepas dari madrasah, para santri harus tetap mendapat perhatian serius dalam pelaksanaan ibadah sehari-hari.
“Kami mohon agar pengurus pondok daerah benar-benar memperhatikan a’malul yaumiyah anak-anak. Jangan sampai longgar, karena di situlah letak pondasi utama pembentukan karakter santri,” tegas beliau.
Selain itu, hal-hal mendasar seperti cara bersuci (thaharah), shalat lima waktu, kemampuan baca tulis Arab, serta kelancaran membaca Alqur’an juga menjadi fokus utama yang harus terus dipantau secara ketat oleh pondok daerah. Hal ini sejalan dengan visi madrasah yang menjadikan pembinaan dasar-dasar agama sebagai prioritas utama.
“Kalau shalatnya tidak tepat waktu, bersucinya keliru, atau membaca Alqurannya belum lancar, itu adalah alarm bagi kita semua. Ini pekerjaan rumah bersama yang harus diselesaikan,” ujarnya dengan nada serius namun penuh kasih.
Acara pelepasan ini juga sekaligus menjadi rapat koordinasi terakhir antara MTs 1 Putri Annuqayah dan pengurus pondok daerah dalam rangka pembinaan siswa kelas 9. Dalam rapat singkat tersebut, berbagai hal teknis dan administratif disampaikan, termasuk mekanisme pelaporan bila terjadi kasus santri yang berhenti mondok atau pulang tanpa izin resmi.
“Kami harap, bila ada santri yang keluar dari pondok atau pulang ke rumah dengan alasan apapun, mohon segera diberitahukan kepada pihak madrasah. Ini penting agar data kami tetap valid dan komunikasi dengan orang tua bisa dilanjutkan,” terang Nyai Ulfa.
Beliau juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada semua pengurus pondok daerah yang telah menjadi mitra terbaik dalam pembinaan santri selama ini. “Ini adalah kerja sama yang kita bangun dengan penuh kepercayaan dan rasa tanggung jawab. Mari kita jaga bersama,” tutupnya.
Para perwakilan dari berbagai pondok daerah Annuqayah seperti Latee, Lubangsa, Lubangsa Tengah, Lubangsa Utara, dan lainnya menyambut baik dan siap menindaklanjuti amanah ini. Dalam tanggapan singkatnya, salah satu perwakilan dari Pondok Daerah Latee menyatakan bahwa mereka telah menyiapkan sistem pemantauan a’malul yaumiyah berbasis kelompok dan pengurus harian untuk memastikan kedisiplinan santri tetap terjaga.

“Kami siap menerima dan membina para santri kelas 9 yang telah dilepas. Kami akan berkoordinasi secara berkala dengan pihak madrasah jika ada hal-hal yang perlu disampaikan, terutama yang berkaitan dengan perubahan status santri,” kata salah satu perwakilan tersebut.
Demikian pula perwakilan dari Pondok Lubangsa juga menyatakan kesiapan penuh untuk melanjutkan pembinaan. Bahkan, beberapa pondok telah menyiapkan program tambahan berupa kajian kitab kuning dasar khusus untuk santri kelas 9 pasca madrasah menyerahkan mereka agar mereka dapat beradaptasi dengan ritme belajar pesantren secara utuh.
Di sela acara, beberapa guru menyampaikan pesan moral yang menguatkan para santri agar tidak merasa “selesai” setelah lulus dari madrasah. Justru, inilah saatnya mereka mengambil peran lebih besar dalam mengembangkan diri.
“Jangan anggap lulus dari MTs sebagai akhir. Ini awal dari tanggung jawab kalian sebagai penuntut ilmu sejati. Di pondok, kalian harus lebih mandiri, tidak hanya belajar karena disuruh, tapi karena kesadaran sendiri,” ujar Bapak Ismail, Spd.I, salah satu guru IPS dan Wakamad bidang Kurkulum menatap para santri akhir dengan mata teduh.
Para santri juga diajak untuk memahami bahwa mereka kini telah menjadi subjek pendidikan, bukan lagi hanya objek yang menerima instruksi. Artinya, dorongan dari dalam diri sangat dibutuhkan untuk bisa sukses di jenjang berikutnya.
Tak sedikit santri yang menitikkan air mata saat acara berlangsung. Bagi mereka, momen ini adalah perpisahan dari sebuah rumah keilmuan yang telah membesarkan jiwa dan semangat mereka selama tiga tahun terakhir. Namun sekaligus, ini adalah pintu gerbang menuju fase baru yang lebih luas dan menantang.
“Rasanya campur aduk. Sedih karena akan berpisah dengan guru-guru yang baik dan teman-teman yang sudah seperti saudara. Tapi juga senang karena akan masuk ke dunia pondok yang lebih dalam,” kata Raisya salah satu santri kelas 9 Dinamis sambil mengusap matanya yang sembab.
Beberapa dari mereka bahkan sudah memiliki target pribadi untuk menghafal Alqur’an, mendalami kitab-kitab salaf, atau mengikuti program khidmah di pondok sebagai bentuk pengabdian.
Dengan dilepasnya santri kelas 9 ke pondok daerah, MTs 1 Putri Annuqayah berharap para alumninya dapat menjadi kader umat yang tangguh, yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga kuat secara spiritual dan sosial.
“Kami berharap mereka tumbuh menjadi santri yang bisa menjaga adab dan akhlak, cakap berbahasa Arab dan membaca kitab, serta memiliki kepekaan sosial tinggi. Kelak, mereka bisa menjadi penerus perjuangan Islam di masyarakat,” kata Nyai Ulfa, dalam penutupnya.
Acara pelepasan ditutup dengan pembacaan doa bersama dan saling berjabat tangan antara guru, pengurus daerah, dan para santri. Sebuah momentum yang sederhana namun menjadi tonggak penting dalam estafet pendidikan dan pembinaan karakter santri ala Annuqayah.
Pelepasan santri kelas 9 ini bukanlah perpisahan, tetapi lebih tepat disebut sebagai pengalihan tanggung jawab dalam satu kesatuan sistem pendidikan pesantren Annuqayah. Dari madrasah ke pondok daerah, dari ruang kelas ke langgar dan balai pengajian, dari guru ke pengasuh. Sebuah proses yang telah dirancang untuk menjaga kesinambungan, bukan memutuskan.
Semoga para santri yang telah dilepas ini tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang membawa cahaya ke tengah masyarakat, menjadi ulama yang bijaksana, guru yang mendidik dengan kasih, atau pemimpin yang adil dan amanah.
Karena sejatinya, pelepasan bukanlah akhir. Ia adalah awal dari fase perjuangan baru.@ (Red. Amjun)
Berikan komentar anda