Guluk-Guluk, 07 Mei 2025 — Suasana halaman MTs 1 Putri Annuqayah siang itu tampak berbeda dari biasanya. Di tengah embusan angin dan panasnya cahaya matahari siang, Lembaga Pers Siswa (LPS) MTs 1 Putri Annuqayah menggelar acara istimewa: peluncuran buku antologi puisi bertajuk Piantan Setangkup Amerta. Acara ini menjadi momen penting bagi para siswi yang terlibat langsung dalam proses kreatif penulisan buku tersebut, serta menjadi tonggak pencapaian dalam geliat literasi sekolah.
Peluncuran buku dilakukan secara simbolis oleh Pembina LPS, Bapak Ahmad Muhli Junaidi, S.Pd., di hadapan para siswi penulis buku Dalam sambutannya, beliau menyampaikan pesan mendalam yang menggugah semangat menulis bagi para siswa.
“Jangan jemu-jemu menulis,” ucap beliau penuh penekanan. “Sebab menulis adalah dasar dari proses pendidikan lebih lanjut. Menulis itu bukan hanya mencatat, tapi membangun pemikiran, merekam sejarah, dan menyampaikan gagasan kepada dunia.”
Bapak Muhli, panggilan akrab beliau, juga mengingatkan pentingnya budaya membaca sebagai pondasi awal dari keterampilan menulis yang baik.
“Kalau ingin menulis yang baik, maka bacalah. Membaca adalah jendela dunia, dan dari bacaan yang bermutu, kita bisa melahirkan tulisan yang bermakna.”
Buku Piantan Setangkup Amerta merupakan hasil kerja keras tim LPS MTs 1 Putri Annuqayah yang selama berbulan-bulan mengumpulkan, menyeleksi, dan menyunting karya-karya puisi dari para penulis muda di lingkungan PP Anuqayah. Dalam buku ini, terangkum ratusan puisi yang menggambarkan refleksi kehidupan, pengalaman remaja, spiritualitas, hingga cinta tanah air, semuanya disajikan dengan gaya bahasa khas generasi muda yang puitis dan menggugah.
Judul Piantan Setangkup Amerta sendiri menyimpan makna filosofis. Dalam bahasa Sanskerta, "piantan" berarti kehidupan, tanaman atau sesuatu yang ditanam, sementara "amerta" berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti keabadian. Gabungan dua kata ini menggambarkan harapan agar karya-karya yang ditanam hari ini akan tumbuh menjadi warisan abadi yang bermanfaat bagi generasi mendatang.
Dalam wawancara khusus yang dilakukan oleh reporter LPS kepada Bapak Ahmad Muhli, beliau menegaskan pentingnya kekuatan literasi dalam ekosistem pendidikan Annuqayah.
“Annuqayah itu kuat dalam literasi. Ini bukan hanya klaim, tetapi sudah terbukti sejak dulu. Banyak tokoh dan penulis besar yang lahir dari rahim pesantren ini. Oleh karena itu, generasi sekarang harus mampu menjaga dan meneruskan tradisi ini. Menulis adalah bagian dari jihad intelektual yang tidak boleh padam,” jelas beliau dengan penuh semangat.
Beliau juga mengapresiasi semangat para siswi yang berani menuangkan ide dan perasaan mereka dalam bentuk puisi. Menurutnya, keberanian untuk menulis dan mempublikasikan karya di usia muda adalah langkah awal menuju lahirnya generasi intelektual yang tangguh dan kritis.
Acara peluncuran buku ini tidak hanya menjadi ajang seremonial, melainkan juga sarat makna edukatif. Sejumlah siswi yang puisinya dimuat dalam antologi turut membacakan karya mereka secara langsung di hadapan para hadirin. Terdengar lantang suara-suara muda yang menggema membawa pesan-pesan kejujuran, harapan, dan perjuangan melalui bait-bait indah puisi.
Salah satu penulis, Abqoriyatus Sholehah, kelas IX Blessing, mengungkapkan rasa bangga dan syukurnya bisa berkontribusi dalam buku ini.
“Awalnya saya hanya iseng menulis puisi di buku harian. Tapi ketika LPS membuka kesempatan untuk mengirim karya, saya memberanikan diri. Tidak menyangka kalau puisi saya bisa dimuat dan dibacakan dalam acara sebesar ini,” ungkapnya penuh rasa haru.
Waka Humas MTs 1 Putri Annuqayah, Bapak Annas, Spd.I yang juga selaku editor buku., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada tim LPS dan seluruh siswi yang telah menunjukkan kualitas luar biasa dalam bidang literasi.
“Saya sangat bangga dengan semangat kalian. Buku ini bukan sekadar kumpulan puisi, tapi cermin dari proses pembelajaran yang holistik. Menulis itu melatih berpikir, menganalisis, dan menyampaikan ide dengan cara yang elegan,” tutur beliau.
Beliau juga menambahkan bahwa kegiatan literasi seperti ini akan terus didorong dan difasilitasi oleh sekolah sebagai bagian dari penguatan karakter dan daya pikir kritis siswa.
Di akhir acara, dilakukan sesi foto bersama antara para penulis, pembina, guru, serta kepala madrasah. Momen ini menjadi kenangan manis bagi seluruh peserta, sekaligus penguat semangat untuk terus berkarya di bidang literasi.
Peluncuran buku Piantan Setangkup Amerta menjadi bukti nyata bahwa literasi bukanlah hal yang asing di lingkungan MTs 1 Putri Annuqayah. Dengan semangat kolektif dan bimbingan yang tepat, para siswi telah membuktikan bahwa mereka mampu menghasilkan karya yang bernilai dan membanggakan.

Kegiatan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di bawah naungan Annuqayah maupun di luar pesantren, bahwa menulis bukanlah kegiatan elitis yang hanya dilakukan oleh segelintir orang, melainkan keterampilan dasar yang bisa dimiliki oleh siapa saja, asalkan diberikan ruang, dukungan, dan motivasi.
Piantan Setangkup Amerta telah resmi menjadi bagian dari khazanah literasi MTs 1 Putri Annuqayah. Semoga dari buku ini lahir bibit-bibit penulis hebat yang kelak akan menorehkan tinta emas di panggung literasi nasional maupun dunia.@ (Rep. Ais-Wi)
Berikan komentar anda